ASSALAMUALAIKUM

SEMOGA TULISAN SAYA BERMANFAAT ...TRIMS

Senin, 24 Oktober 2011

MIM DAN MUKJIZAT NABI DAUD PART IV : LEDAKAN ENERGI DARI TEORI NUKLIR EINSTEIN




Di bagian ketiga, saya menyinggung tentang kejujuran. Sebuah norma yang mulai pudar dan langka di negeri ini.



Pembelajaran memang datangnya tidak selalu dari sesuatu yang nilainya “benar”. Maka dari itu dalam kesempatan kali ini saya mengajak pembaca semua untuk mencermati kasus yang sedang hangat belakangan ini. Nazarudin dan Partai Demokrat serta kaitannya dengan kasus korupsi pembangunan wisma atlit di Jaka Baring, Sumatera Selatan. Secara kasat mata kita mestinya bisa menilai, kejujuran dapat dikalahkan dengan uang dan tahta. Hanya karena keinginan untuk berkuasa, kejujuran yang dasarnya fitroh, suci ternoda dan akhirnya menjadi bumerang. Kini semuanya hanya tinggal menunggu saja. Kebobrokan suatu hari pasti akan terungkap cepat atau lambat. Karena kunci dari permasalahan ini, yaitu Nazarudin telah tertangkap. Sungguh sebuah ironi.



Berkaitan dengan itu, adalah sebuah pelajaran berharga yang Allah hendak tunjukkan bagi kita semua. Asmaul Husna sebagai jiwa baiknya tidak hanya sebagai sebuah hapalan belaka. Namun harus menjadi jiwa, menghujam dan berlaku seimbang. Keinginan MIM untuk menghantarkan bangsa Indonesia untuk mewujudkan cita-citanya; hidup sejahtera (As-Salam), harus juga seimbang dengan sikap yang lain. Utamanya dengan kejujuran dan keadilan (Al-‘Adlu).



Ledakan Energi Yang Dahsyat



Apabila norma kejujuran dan yang lainnya yang berdasar kepada Asma Allah, benar-benar bisa diaplikasikan oleh MIM dan segenap MIMers maka dapat dipastikan akan menjadi medan magnet yang kuat bagi massa. Sehebat apapun program yang digulirkan tanpa dilandasi itu semua hanyalah sebuah kesia-sian. Karena apa? Suatu hari nanti, manakala MIM mampu berada “di atas” dan menjadi panutan serta sorotan, maka akan banyak yang mencari-cari cela dan kesalahan. Karena itulah sebuah antisipasi dari awal haruslah dilakukan.



Pemimpin yang jujur atau “Ratu Adil” sedang ditunggu-tunggu kedatangannya oleh bangsa ini. Bukan hanya seorang figur sentral, namun lebih dari itu. Adalah sebuah kesatuan sistem yang utuh dan kokoh. Sistem yang adil dan jujur itu akan memberikan daya tarik yang kuat. Sehingga masyarakat akan berbondong-bondong mengikutinya. Bagaikan lokomotif memimpin anak gerbongnya menuju kepada kesejahteraan dan kemakmuran bersama.



Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan, dan kamu lihat manusia masuk din(sistem)Allah dengan berbondong-bondong, maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan mohonlah ampun kepada-Nya. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penerima taubat.(QS.An-Nashr 110/1-3)



Jika masyarakat/massa dirumuskan sebagai “m”, dan kecepatan cahaya (pelaksanaan nur dari asmaul husna) dilambangkan sebagai “c”, maka energi ledakan yang dahsyat dari itu semua “E” adalah kuadrat yang berbanding lurus dengan massa dan kecepatan cahaya tadi. Atau bisa dirumuskan :



E = m.c²



Berbondong-bondongnya manusia untuk bergerak membangun bangsa inilah yang akan terjadi bilamana semua wujud adanya. Dan Albert Einstein pun akan terharu karena rumus nuklirnya yang pernah meluluhlantakkan dunia, ternyata berubah menyelamatkan dunia. Wallahua’lam

MIM dan Mukjizat Nabi Daud part III ; Sebuah berita besar (An-Naba’)



Tidak terasa 66 tahun sudah negeri ini merdeka dan terlepas dari penjajahan. Namun badai seakan tak pernah usai. Persoalan demi persoalan terus saja bertambah dan membuat hati ini miris. Dari korban lumpur Lapindo sampai masalah TKW yang dihukum mati di negara tetangga. Belum lagi kasus korupsi yang makin menjadi-jadi. Mungkin jika dibuat daftar permasalahan yang ada di negara ini, panjangnya bisa masuk Guinnes Book of Record.



Meskipun hati miris, tapi kalau kita mau berpikir positif sesungguhnya permasalahan yang datang bertubi-tubi itulah yang akan membuat bangsa ini menjadi besar. Keoptimisan harus selalu ada. Karena itu adalah ciri manusia yang berketuhanan. Iman berarti yakin akan adanya Tuhan YME. Juga yakin bahwasanya Tuhan hendak memandaikan bangsa ini dengan adanya masalah tersebut.



MIM dan harokahnya



Saya akan memberikan sebuah analogi. Mim (salah satu huruf dalam huruf-huruf hijaiyah), tanpa harokah adalah sebuah huruf yang mati. Akan tetapi jika diberikan harokah misalkan dhomah, dia baru bisa mengeluarkan bunyi “mu”. Harokah dalam bahasa arab adalah sama dengan gerakan dalam bahasa Indonesia.



MIM sebagai sebuah organisasi yang diharapkan mampu menjadi motor bagi bangkitnya bangsa ini juga harus memiliki gerakan. Tentunya gerakan yang selaras dengan visi dan misi yang telah didengungkan. Jika demikian adanya maka itu sama adanya dengan mukjizat Nabi Daud. Yang memiliki suara yang indah dalam melantunkan Zabur. Mengapa? Karena Zabur yang merupakan firman Allah SWT mampu direalisasikan oleh Nabi Daud dalam wujud Kerajaannya yang makmur/negara yang madani.



Dalam Al-Qur’an begitu banyak kisah bangsa-bangsa yang besar namun jatuh dan hancur begitu saja. Maka seharusnya MIM dan para MIMers dapat mengambil pelajaran dari itu semua. Maka modal apakah yang harus dimiliki oleh para MIMers juga bangsa ini jika ingin bangkit dan maju? Dalam QS. An-Naba 78/38 Allah SWT berfirman :



Pada hari, ketika ruh[1549] dan para malaikat berdiri bershaf- shaf, mereka tidak berkata-kata, kecuali siapa yang telah diberi izin kepadanya oleh Tuhan Yang Maha Pemurah; dan ia mengucapkan kata yang benar.



Mengucapkan kata yang benar atau jujur adalah modal utamanya. Jujur dari dalam hati bahwa niat membangun bangsa ini karena ibadah dan mengharap ridho Tuhan semata. Sehingga dapat dipastikan segala gerakan yang diperbuatnya pun dapat dipastikan jujur. Jujur manajemennya dengan menggunakan prinsip open manajemen.



Bersih pembukuan keuangannya, baik sumber-sumber keuangannya yang dapat dipertanggungjawabkan maupun pembukuannya yang rapi terperinci (tidak campur aduk dan menggunakan pembukuan ganda, satu untuk kalangan sendiri dan yang lain untuk dunia luar). Begitu juga jika nantinya ada perekrutan anggota MIM baru. Tidak boleh dengan paksaan dan iming-iming sesuatu. Tapi harus datang dari hati nurani mereka yang bersih. Jika dua hal tersebut dipadukan (laporan keuangan dan penambahan anggota baru) dilandasi dengan kejujuran dan menghindari laporan fiktif (ABS=Asal Bapak Senang), lalu disertai program-program yang membumi. Yaitu program-program yang menyentuh pada kepentingan hajat hidup orang banyak, maka pasti akan timbul spirit(ruh) dan power/kekuatan(malak=malaikat) dalam tubuh MIM khususnya dan bangsa ini pada umumnya.



Kejujuran memang telah menjadi barang yang langka di negeri ini. Dan hanya lewat kejujuran bangsa ini akan bangkit. Ayo MIMers, tidak usah banyak berkata-kata, tunjukkan saja kerja dan karyamu. Dan biarkan Tuhan yang mengizinkanmu berucap. Karena suara Tuhan adalah suara kejujuran. Sehingga nanti mereka akan bertanya-tanya, “ berita besar apa ini?”



Tentang apakah mereka saling bertanya-tanya?

Tentang berita yang besar

yang mereka perselisihkan tentang ini.

Sekali-kali tidak[1545]; kelak mereka akan mengetahui

kemudian sekali-kali tidak; kelak mereka mengetahui

(QS.An-Naba78/1-5)

MIM DAN MUKJIZAT NABI DAUD PART II




Sebelum membaca tulisan ini, ada baiknya bagi yang belum membaca tulisan saya yang berjudul MUKJIZAT NABI DAUD, MIM DAN HARI LAHIR PANCASILA yang saya terbitkan di catatan Facebook saya juga di blog ini.



Jika sudah membacanya baiklah akan saya lanjutkan makna mukjizat Nabi Daud yang lain.



Nabi Daud a.s. dikaruniai suara yang sangat merdu. Ketika mendengar Daud melagukan ayat kitab Zabur, orang dan jin yang sakit menjadi sembuh, burung-burung terbang mendekat, angin menjadi tenang, gunung serta burung pun bertasbih kepada Allah SWT.



Di dalam ayat-ayat Allah tentunya ada pertanda dan juga pelajaran bagi orang-orang yang mau berpikir.marilah kita renungkan bersama-sama. Pertanyaannya apakah makna suara yang di maksudkan itu? Adakah hanya sekedar suara melantunkan ayat-ayat Allah belaka?



Visi dan misi MIM



MIM singkatan dari Masyarakat Indonesia Membangun adalah sebuah organisasi yang mengajak seluruh lapisan masyarakat untuk membangun negara yang kita cintai ini bersama-sama. Dengan membudayakan kembali prinsip gotong-royong yang perlahan-lahan mulai terkikis karena pengaruh globalisasi. Tanpa mengedepankan perbedaan agama, suku bangsa dan antar golongan, MIM sebagai sebuah wadah berusaha untuk mewujudkan apa yang dicita-citakan dalam pembukaan proklamasi UUD 1945, yakni sebuah masyarakat yang adil dan makmur. Karena sebagai organisasi, MIM sadar betul hanya dengan bersatu dan bersama-sama membangun sajalah cita-cita tersebut dapat tercapai.



Visi dan misi memang sudah selayaknya dikumandangkan. Layaknya adzan sebagai pertanda waktu sholat. Ada kata-kata “Hayya ‘ala sholah, hayya ‘alal falah”. Sebuah ajakan untuk melakukan sholat (gerakan). Karena tanpa adanya gerakan (meng’akbarkan/membesarkan asma Allah) atau dengan kata lain gerakan membangun untuk membesarkan panji-panji negara yang kita cintai, tidaklah mungkin tercipta kemakmuran (falah=kemenangan). Dengan begitu dapat disimpulkan bahwa Allah SWT mengajarkan adanya kesinergian dan keselarasan antara perkataan (perwujudan makna adzan) dengan perbuatan atau gerakan (perwujudan makna sholat).



Berulang-ulangnya sholat yang kita lakukan bermakna sebuah evaluasi. Sudahkah gerakan—gerakan membangun yang kita kerjakan sesuai dengan visi dan misi / target yang telah digariskan bersama.



Keserasian dan kesesuaian antara perkataan dan perbuatan akan menciptakan harmoni yang indah. Dan inilah makna suara yang merdu saat Nabi Daud melantunkan Zabur. Ayat-ayat yang Allah turunkan bagi manusia yang pada hakekatnya untuk kemaslahatan dan kebaikan manusia itu sendiri telah berhasil diaplikasikan oleh Nabi Daud a.s dengan membentuk sebuah sistem yang madani. Bersama-sama dengan anaknya yaitu Nabi Sulaiman a.s membawa umat manusia pada saat itu kepada sebuah peradaban yang tinggi dan hidup sejahtera.



Tantangan MIM ke depan adalah sebagai motor penggerak rakyat agar bersama-sama mewujudkan visi dan misi yang telah dikumandangkan. Sehingga apa yang telah disuarakan selaras dengan gerakan serta perbuatannya. Dan bukan hanya slogan dan wacana saja.



Inilah yang disebut Dakwah bil Hal. Dakwah dengan perbuatan. Apabila sudah menampakkan hasil yang nyata, orang pun akan berbondong-bondong melakukan perbuatan yang sama. Baik orang yang selama ini sakit hati terhadap pemerintahan ataupun yang sakit mentalnya karena korupsi. Mereka akan sadar dengan sendirinya bahwa perbuatan itu sangat merugikan negara. (layaknya mukjizat Nabi Daud yang mampu menyembuhkan orang dan jin yang sedang sakit).



Secara otomatis media penyiaran baik cetak maupun elektronik serta-merta akan berdatangan (burung dahulu dipakai sebagai sarana menyampaikan informasi lewat surat),demi melihat fenomena yang luar biasa ini. Betapa tidak, Indonesia yang bisa dikatakan diambang kehancuran, tiba-tiba bangkit dan bersatu lalu membangun. Ini pasti akan menjadi berita yang menggemparkan dunia. Pertikaian-pertikaian (ibarat angin ribut) antar warga yang menghiasi media-media belakangan ini juga pasti akan kembali mereda. Begitu juga partai politik dan ormas baik besar maupun kecil yang tentunya sudah memiliki massa (layaknya piramida atau gunung). Mereka yang saat pemilu dengan lantang meneriakkan visi dan misina, namun setelah kalah hanya diam, berpangku tangan, menonton. Menunggu-nunggu kelemahan rival politiknya lalu kemudian berkomentar dan mengkritisi tanpa berkaca dan mempertanyakan pada diri sediri tentang apa yang mereka sudah perbuat. Semoga dengan adanya MIM, gunung-gunung partai politik akan merubah mindset mereka untuk bersama-sama sibuk bekerja (bertasbih) demi kejayaan bangsa ini. Wallahua’lam

Selasa, 28 Juni 2011

ISRA’ MI’RAJ TODAY ; SEBUAH EVALUASI KEJUJURAN



Tahun ke 10 setelah kenabian adalah tahun di mana rasulullah di tinggalkan oleh dua orang yang dikasihinya. Pertama, wafatnya Siti Khadijah RA, istri rasulullah dan orang yang pertama kali mengakui Muhammad SAW sebagai utusan Allah. Dukungannya terhadap dakwah yang dilakukan rasulullah baik moril maupun materil pada awal penegakkan dinullah, sangatlah berharga dan amatlah berarti bagi kaum muslimin yang saat itu masih minoritas. Karena isteri ini adalah pelipur lara di kala duka. Dengan iman dan kelapangan hatinya menjadi labuhan untuk mendapatkan rahah nafsiyah (refresi jiwa) di sisinya di masa hidupnya. Begitu juga dengan wafatnya Abu Thalib pamanda rasulullah. Meskipun tidak mengucap kalimat tauhid di akhir hayatnya, Abu Thalib yang juga disegani di kalangan bani Quraisy sangatlah melindungi gerakan dakwah yang dilkukan oleh kemenakannya itu. Karena itulah tahun ke-10 kenabian disebut juga Amul Huzn (tahun kesedihan).

Di sisi lain, kondisi kaum muslimin yang terdesak pada saat itu. Tekanan baik berupa hinaan, fitnahan atau juga berupa fisik seperti penyiksaan hingga pembunuhan yang dilakukan oleh kaum Quraisy terhadap kaum muslimin saat itu juga menambah kedukaan rasulullah SAW. Dakwah seakan jalan di tempat.

Yang umumnya kita pahami bersama adalah Isra’ Mi’raj identik dengan turunnya perintah sholat. Pertanyaannya, apakah sebelum rasulullah Isra’ Mi’raj, sholat belum pernah sama sekali dikerjakan oleh rasulullah? Bukankah Muhammad adalah rasul yang mempunyai garis keturunan dari nabi Ibrahim dan Ismail? Jika demikian adanya, kalau Ibrahim AS mendirikan ka’bah (identik dengan ibadah haji), sudah sewajarnya sholatpun diperintahkan juga. Dasarnya adalah QS. Ibrahim 14/40 :
Ya Tuhanku, jadikanlah aku dan anak cucuku orang-orang yang tetap mendirikan shalat, ya Tuhan kami, perkenankanlah doaku.
Di dalam ayat tersebut memang tidak dicantumkan siapa yang berdo’a. karena itu mari kita lihat di ayat sebelumnya QS.14/39 :
Segala puji bagi Allah yang telah menganugerahkan kepadaku di hari tua (ku) Ismail dan Ishaq. Sesungguhnya Tuhanku, benar-benar Maha Mendengar (memperkenankan) doa.
Berarti jelas yang berdo’a adalah nabi Ibrahim AS. Kesimpulannya nabi Ibrahim melaksanakan sholat. Dan itu berarti anak keturunannya pun melaksanakan sholat. Lalu mengapa Allah memerintahkan kembali? Ada sebuah makna tersembunyi yang patut kita cermati bersama.

Untuk lebih mudah memahami, ada baiknya kita sama-sama melihat kembali ayat tentang peristiwa Isra’ Mi’raj. Dalam QS. Al-Isra’ 17/1 Allah SWT berfirman :

Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al Masjidil Haram ke Al Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya[847] agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.

Apa maksud Allah SWT memperjalankan Muhammad dalam kondisi malam? Menurut hemat saya, malam disini memiliki 2 buah makna. Yaitu makna kondisi eksternal (kaum Quraisy yang dalam keadaan gelap/jahil/bodoh). Dan makna internal yakni kondisi dakwah yang seakan menemui jalan buntu, gelap gambaran malam yang seakan penuh dengan kedukaan.

Diperjalankannya Muhammad SAW oleh Allah SWT bukan hanya sekedar menghibur. Tapi juga hendak mengajarkan bahwasanya keberhasilan itu dapat diperoleh jika ia memiliki sistem. Ada dua buah masjid (sistem) yang disebutkan dalam ayat tersebut. Masjidil Haram adalah sistem yang dibangun oleh Nabi Ibrahim AS. Dan Masjidil Aqsha adalah sistem yang dibangun awalnya oleh Nabi Adam AS yang kemudian hancur seiring dengan waktu. Lalu dibangun kembali oleh Nabi Daud AS dan disempurnakan oleh Nabi Sulaiman AS. Jadi tidak hanya sekedar sebuah bangunan yang monumental saja. Tapi lebih dari itu. Yakni adanya sebuah sistem di mana Hukum Allah tegak di dalamnya. Sehingga terwujudlah Islam (kedamaian, kesejahteraan). Kesimpulannya, Allah mengajak Muhammad untuk mengevaluasi, kenapa kegagalan terjadi. Itu disebabkan karena Muhammad belum memiliki sistem.

Sholat dalam arti yang lebih luas adalah meng-Akbarkan Asma’ (sama dengan isme/paham) Allah. Berangkat dari peristiwa Isra’ Mi’raj, Muhammad mengirim Mushab bin Umair untuk membuat sistem yang Allah maksudkan. Dan Yastriblah yang terpilih untuk kemudian menjadi Madinah.

Untuk pribadi juga NKRI

Makna Isra’ Mi’raj sungguh luas. Hanya tinggal mau dibawa kemana makna itu kita tujukan. Jika untuk pribadi, mengadakan evaluasi terhadap kegagalan-kegagalan kita selama ini. Membuat rencana dan gerakan (sholat) hingga kita mampu mencapai sukses. Jika belum juga berhasil, kembali lagi dari evaluasi, rencana dan gerakan. Itulah mengapa Allah memerintahkan sholat itu selalu dilakukan berulang-ulang. Karena pada hakekatnya Allah menginginkan manusia untuk sukses (hakekat mengucapkan salam).

NKRI yang sudah merupakan keputusan final saat ini juga mengalami kondisi stagnan, krisis kepemimpinan, gelap, menemui jalan buntu. Sudah saatnya kita mengevaluasi mengapa hal tersebut terjadi. Evaluasi bisa berarti bercermin. Bayangkan jika yang dilihat adalah wajah yang buruk. Kekecewaan, kekesalan pasti akan muncul dalam benak kita.

Cermin yang baik akan dapat memberikan gambaran yang jernih dan baik. Lalu kurang baik apa Indonesia? Negara yang memiliki kekayaan alam yang melimpah ruah. Berarti ada yang menutupi cermin tersebut. Cermin negara kita telah tertutupi debu. Dan debu itu adalah “ketidakjujuran”. Karena sesunguhnya “kemenangan jika diperoleh dengan cara yang salah (tidak jujur) hanya menghasilkan bom waktu. Sedangkan kekalahan jika diperbaiki dengan cara yang hak (jujur), maka akan mendapatkan kemenangan yang hakiki”. Wallahua’lam

Senin, 27 Juni 2011

ALIF LAM MIM, HUKUM NEWTON I, DAN GERAKAN MEMBANGUN INDONESIA




Sudah lama juga nggak nulis lagi. Karena sibuk juga dan masih banyak kerjaan yang belum selesai. Kaya novel pertama yang belum juga rampung (malu deh….), dan lagi buat artikel untuk lomba menulis (kalo yang ini sih usaha buat nambahin modal nikah, lumayan). Jadi maaf yach sobat-sobatku semua. Kalau mungkin menunggu-nunggu tulisan dari saya, hehe3x (narsis sedikit yach…Gpp khan?).

Kali ini saya mau sedikit share tentang makna Alif Lam Mim. Memang kita semua sudah paham bahwasanya dalam terjemahan Al-Qur’an dimanapun, kata Alif Lam Mim tidak memiliki arti atau dengan kata lain, hanya Allahlah yang mengetahui artinya. Bukan bermaksud untuk lebih pintar, mendahului Allah dan lainnya. Hanya ingin mengupas, mengajak pembaca juga termasuk saya untuk berpikir, apa iya Allah menurunkan kita sebuah ayat yang kita tidak mengerti artinya? Di satu sisi sebagian dari kita mungkin akan mengatakan, “Itu kan kuasa Allah, Allah ingin menunjukkan bahwa Dia Maha Mengetahui…”. Saya tidak menyalahkan pendapat itu. Di sinilah letak keunikan Al-Qur’an. Dan menjadi sebuah tantangan bagi kita untuk mencari tahu maknanya. Saya yakin kita semua bisa menemukannya bersama.

Alif Lam Mim, merupakan tiga huruf hijaiyah tanpa harokah. Itu artinya ketiga huruf itu adalah huruf mati. Karena mereka tida memiliki bunyi (tidak diberikan harokah seperti fathah, kashroh atau dhomah). Baru setelah diberikan fathah, misalnya Alif, ia akan memiliki bunyi. “A”. Setuju…??

Harokah dalam bahasa arab berarti gerakan. Dalam hukum newton I berbunyi,”Benda diam berarti F(gaya)=0”. Atau dengan kata lain benda diam adalah benda yang tidak memiliki gerakan. Itu berarti sama dengan Alif. Ia dibaca Alif saja karena tidak diberikan Harokah (Gerakan). Sayangnya saat menemukan teorinya, Newton “mungkin” tidak memahami Alif Lam Mim ya… Coba saja dia tahu artinya, langsung memeluk Islam saat itu juga deh….

Begitu juga halnya dengan manusia. Allah sebagai pencipta (Al-Khaliq), menilai manusia yang tidak bergerak (bergerak di sini dalam pandangan Allah=ibadah) hidupnya sia-sia. Betul gak sobat? Dasarnya apa saya berkata seperti itu? Dalam Al-Qur’an surat Adz-Dzariyat 51/56 Allah SWT berfirman :

Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.

Dalam ayat tersebut Allah SWT menegaskan bahwasanya tujuan penciptaan manusia adalah untuk ibadah. Atau Allah menciptakan manusia hanya untuk beribadah. Kalau manusianya gak ibadah gimana? Itu berarti allah tidak merasa menciptakan. Tapi kenyataannya, banyak manusia yang hidupnya tidak untuk beribadah? Tapi mereka tetap hidup, makan bekerja dsb. Memang benar mereka hidup. Tapi hidupnya hanya dalam kehampaan. Karena mereka tidak menemukan makna hidup. Hidup mereka sia-sia dalam pandangan Allah. Hidup dalam kesia-siaan? Sama dengan mati.

Sama halnya dengan Komputer (CPU) hardware tanpa software. Begitulah makna manusia yang hidupnya tidak dipergunakan untuk beribadah. Bisa apa CPU tanpa software? Lalu sebenarnya apa software manusia? Ya, Al-Qur’an. Coba deh kita sama-sama lihat QS. Al-Ma’idah 5/16 :

Dengan kitab itulah Allah menunjuki orang-orang yang mengikuti keredhaan-Nya ke jalan keselamatan, dan (dengan kitab itu pula) Allah mengeluarkan orang-orang itu dari gelap gulita kepada cahaya yang terang benderang dengan seizin-Nya, dan menunjuki mereka ke jalan yang lurus.


Bagi orang-orang yang iman Yakin), mereka tidak ada keraguan sedikitpun akan Al-Qur’an (QS. Al-Baqoroh 2/2-3). Oke sobat? Lanjut ya…

Gerakan membangun Indonesia

Indonesia negara kita tercinta ini seperti mati suri. Meningkatnya angka pengangguran (mati karya) setiap tahunnya yang menyebabkan banyaknya rakyat yang bekerja di luar negeri (ujung-ujungnya mati sia-sia di tangan algojo). Itu berarti pembangunan yang cenderung stagnan, jalan di tempat atau diam (mati). Begitu juga banyak orang yang mati rasa (nggak tahu malu) untuk menguras uang rakyat demi kepentingan pribadi. Dan banyak lagi “kematian” yang lain.

Karena itu, ayo kita melakukan perubahan, untuk bergerak kee arah yang sama. Yaitu GERAKAN MEMBANGUN INDONESIA. Negara yang kita cintai bersama. Tentunya dengan menanggalkan perbedaan-perbedaan yang ada. Suku, Ras, Agama, Antar golongan. Dengan bersinergi atau dengan kata lain gerakan yang searah antara pemerintah dan rakyat. Memberikan karya terbaiknya demi bangsa ini. Yang pasti sesuai dengan kemampuan, keahlian dan juga profesinya masing-masing. Dengan meninggalkan sikap saling menyalahkan, baik pemerintah kepada rakyat atau sebaliknya. Dan juga sikap membenci, dan sikap-sikap tidak terpuji yang lain. Jika tidak segera bergerak untuk bangkit, lama kelamaan Indonesia akan benar-benar mati, dan hanya tinggal nama saja. Wallahua’lam

Minggu, 26 Juni 2011

MUKJIZAT NABI DAUD.AS, MIM DAN HARI LAHIR PANCASILA

Dan sesungguhnya telah Kami berikan kepada Daud kurnia dari Kami. (Kami berfirman): "Hai gunung-gunung dan burung-burung, bertasbihlah berulang-ulang bersama Daud", dan Kami telah melunakkan besi untuknya, (yaitu) buatlah baju besi yang besar-besar dan ukurlah anyamannya; dan kerjakanlah amalan yang saleh. Sesungguhnya Aku melihat apa yang kamu kerjakan. (QS. 34 Surat Saba Ayat 10-11)



Di dalam ayat tersebut di atas ada sebuah kalimat "dan Kami telah melunakkan besi untuknya, (yaitu) buatlah baju besi yang besar-besar dan ukurlah anyamannya". Sungguh menarik untuk dikaji dan dikupas isinya. Dan dengan segala kerendahan hati, saya persembahkan tulisan ini sebagai kado untuk ibu pertiwi yang sedang sedih. Demi melihat anak bangsanya yang saling berselisih. Hanya karena uang dan kekuasaan. Semoga dapat memberikan inspirasi bagi kita semua.



Sebuah batang besi yang padat, tebal dan panjang. Bagaimanakah cara melunakkan atau membengkokkannya? Apakah dengan cara memukulnya dengan besi pula? Tentunya akan membutuhkan tenaga yang besar. Cara yang paling mudah adalah dengan memanaskannya terlebih dahulu sehingga besi itu berwarna kemerahan. Barulah dibengkokkan. Jika besi dipanaskan hingga titik lebur tertentu, ia akan menjadi cair. Sehingga dalam keadaan yang demikian akan lebih mudah dibentuk sesuai yang kita inginkan.



Melebur sebuah filosofi



Melebur bisa juga dikatakan menyatu. Apa filosofinya? Hanya dengan persatuan sebuah bangsa akan menjadi kuat. Sama dengan makna sapu lidi yang terikat erat. Sulit untuk dipatahkan bukan? Maka dengan melebur ini, kita semua diharapkan melepaskan ego masing-masing. Meninggalkan atribut-atribut yang selama ini kita banggakan. Hal itulah yang telah dicontohkan oleh bapak-bapak pendiri bangsa ini saat mengadakan Sumpah Pemuda pada tahun 1928 dengan menanggalkan ego kedaerahannya. Dengan mencari persamaan-persamaan yang mampu mempererat persatuan.



Baju besi yang besar-besar berarti kerangka. Apa kerangka besar bangsa ini? Kerangkanya adalah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Lalu dengan apa menganyamnya? Inilah yang sekarang telah hampir dilupakan. Sebuah kalimat yang ditaruh dalam lambang negara kita. Bhinneka Tunggal Ika. Berbeda-beda tetapi satu jua.



Setelah melebur menjadi satu, satu persatuan dalam Bhinneka Tunggal Ika. Dalam kerangka negara kesatuan Republik Indonesia, maka selanjutnya (kembali kepada ayat di atas) dan kerjakanlah amalan yang saleh. Buatlah prestasi berbentuk karya nyata. Karya yang manfaatnya demi kemakmuran bangsa. Semangat inilah yang harus kembali dinyalakan dalam dada setiap individu bangsa ini. Sebuah komitmen bersama, kesepakatan bersama yang tidak hanya sekedar slogan dan lipsing pemanis bibir belaka.



Masyarakat Indonesia Membangun (MIM)

Sebagai sebuah Ormas yang akan dideklarasikan tanggal 1 Juni 2011 bertempat di Palagan Agung pondok pesantren Ma'had Al-Zaytun. Bertepatan dangan peringatan Hari Lahir Pancasila, Masyarakat Indonesia Membangun (MIM) bertekad untuk menyatukan kembali Visi dan Misi bangsa ini yang telah cerai berai. Melebur menjadi satu dalam negara kesatuan untuk bahu-membahu membangun, menciptakan karya nyata dan prestasi, mewujudkan kemakmuran bagi seluruh rakyat Indonesia.



Menjadikan Hari Lahir Pancasila sebagai waktu deklarasi tentunya memiliki makna khusus yang akan menjadi semangat bagi kader-kader MIM. Amal shaleh dalam bentuk prestasi inilah yang kembali akan mengharumkan nama bangsa Indonesia dalam kancah internasional. Mengembalikan nama baik Indonesia yang selama ini telah tercoreng-moreng dalam segala aspek kehidupan disebabkan telah meninggalkan butir-butir yang terkandung dalam lima sila.

PERANG KHANDAQ MILLENIUM KE-2

Kaum Quraisy saat itu dipimpin oleh Abdullah bin Ubay, orang munafik yang sebelumnya diusir dari Madinah. Mereka mengadakan kontak dengan Masyarakat Mekah untuk menyerang Madinah dengan pasukan berjumlah 24000 orang. Nah, pada saat itu, pasukan muslimin pun ketar-ketir dalam menghadapi hal itu. Atas ide dari sahabat Rasulullah saw. yang bernama Salman Al-Farisi, Nabi Muhammad saw. memerintahkan pasukan islam untuk membuat parit disekitar kota Madinah. Lama pembangunan parit itu sekitar 1 bulan. Dengan hal itu, kaum Quraisy pun tidak mau kalah, mereka akhirnya membuat tenda-tenda peristirahatan di sekitar parit-parit yang dibuat pasukan islam itu. Pada saat pasukan islam sedang terjepit, Allah swt. menurunkan badai disekitar kota Madinah untuk menghancurkan tenda-tenda peristirahatan yang dibangun kaum Quraisy itu. Dengan kejadian ini, tidak ada pasukan islam yang menjadi korban perang itu.



sumber : http://www.kaskus.us/showthread.php?t=4278872



Akankah kejadian tersebut di atas berulang kembali? Check this out...Al-Zaytun sebagai Pondok Pesantren Terbesar se-Asia Tenggara dengan motto ''Toleransi dan perdamaian'' bagaikan miniatur Madinah zaman Rasulullah SAW. Betapa tidak, banyak pemuka agama-agama lain yang datang berkunjung ke pondok pesantren ini. Ini merupakan bukti dan gambaran nyata perwujudan nilai-nilai yang pernah ditanamkan Rasulullah SAW sewaktu memimpin Madinah. Bagaimana Muhammad SAW menyatukan visi dan misi masyarakat madinah yang terdiri dari Kaum Muslimin, Yahudi, Nasrani, dsb, untuk dapat hidup damai dan saling bertoleransi dibawah Piagam Madinah yang telah disepakati bersama. What a beautiful life....



Jika Abdullah bin Ubay adalah orang yang tadinya seperjuangan dengan Rasulullah SAW lalu diusir keluar madinah, karena sangat membahayakan. Karena dianggap musuh dalam selimut. Bagaimana dengan cerminan saat ini? Ternyata kejadian inipun berulang kembali. Al-Zaytun kini dikepung dengan hujatan, fitnahan, dsb. Dan hal ini dilakukan oleh orang-orang yang sakit hati seperti halnya Abdullah bin Ubay yang telah merasa berbuat banyak dan berjasa dalam perjuangan bersama Rasulullah.



Lalu apa yang diajarkan oleh Rasulullah? Sesuai dari usul sahabatnya Salman Al-Farisi, maka dibuatlah parit. Masyarakat madinah bahu membahu untuk membangun supaya mampu untuk swasembada pangan (mandiri secara ekonomi). Juga mempersiapkan generasi penerus (pendidikan). Terbukti saat tampilnya Usamah, seorang panglima perang berusia 17 tahun, yang ditunjuk oleh Muhammad SAW untuk melakukan ekspansi.



Allah SWT tentunya tidak akan tinggal diam. Jika dahulu Abdullah bin Ubay dan 24.000 tentara mengepung madinah disapu dengan badai. Maka badai apa yang mampu mengalahkan fitnahan dan hinaan? Badai KARYA NYATA DAN PRESTASI.... Wallahua'lam